Filed under: Tak Berkategori
Apakah nama anda ada disini, sebagai Alumni SMP Negeri 1 Martapura Tahun 1979?
Mari kita kumpul lagi untuk Reuni dalam rentang waktu 30 tahun, tentu banyak cerita dan pengalaman yang ruarrrrr biasa.
Silakan untuk kontak pemrakarsa melalui 0816217337 atau 05117669669 atau hrivani@yahoo.co.id atau hrivani@telkom.net
KELAS IIIA
Abdul Muis – Abu Bakar Fauzan – Abdullah AK – Abdullah AS – Agus Friadi – Ahmad Yahni – Aliansyah – Aspiah – Aida Salatiah – Aspiah – Brina Andriati – Bambang Sumantri – Edy Safrudin – Fahmi Usamah – Gustu Frieda Agustina – Hamdan – Husniah – Iberamsyah – Iskandarani – Kaspul Anwar – Muhammad Afandi – Masrufah Anami – Masrufin – Maswar Junaidi – Martasiah – Noor Jainah – Nalendro – Ni Ratih Palasara Sunu – Rahmatiah – Rita Ningsih – Rozani – Sarkiah – Saifudin – Siswanto – Syueb Ma’arief – Sri Hartini – Sugian Noor – Syaiful Kasyadi – Sugian Noor B – Suneto – Suria Darma – Saifuddin – Supian Noor – Yudi Agus – Zairohmi Wahidah – Zainal Arifin
KELAS IIIB
Agus Salim – Ahmad Al Amin – Aida Hairiah – Akhmad – Arnimawati – Aidi Royansyah – Andi Nadransyah – Ahmad Yafid Syam – Akhmad Ridhani – Ani Heldalina – Ahmad Ruyadi – Dinarjat Suriansyah – Ester Betseba Lawalata – Fatimah Wati – Fariadi – Fekdi – Gusti Herlina – Gusti Masdiani – Gusti Akhmad Sofian – Gusti Hafiziansyah – Gusti Sukar Jaya – Gusti Hendra Permana – Gusti Kesuma Wijaya – Hairin Tomi – Hasbi Rivani – Husin Dahlan – Joko Andoko – Muhammad Syairoji – Mahrita Noor – Mahrina Noor – Marhansyah – Mahransyah – Mardiansyah – Mustawan Irfan – Muharjono – Nurul Farida – Nurhayati – Nurdiana – Ritna Zulfikar – Roosnailah – Syamsiah – Selamat Riadi –Suryo Sumanto – Syaiful Bahrin Noor – Taufikur Yadin – Zuraida.
Filed under: Tak Berkategori
ABSTRACT
Hasbi Rivani
Achievement Study Minimal Service Standart Indicators Health Sector Toward Health Financial in Banjar Health Office, (to guidance by Efansyah Noor, SKM, M.Si and Drs. Fakhsiannor, M.Si)
xiv + 63 pages; table 16; inset 5
One of factor that influence work of development of the health is not increase that is the health of development have not been in the mainly the national development where budget for health still not good in amount, not profesional in distribution and have not away usage. The indicate can be use to situation above is the Human Development Index (HDI) in Indonesian in 2003 at range of 112 by 190 country that before in 2000 at range of 102. While the work of indicator can be use is minimal service standar indicators in health sector. This research is desciptive research with qualitative approach. This research subject its amount 32 people, that contains 14 people from health office and 18 people from health centre.
Research of result there are 22 indicators (40,7%) in SPM Health Sector can’t be reached with the target that must be reach and the health financial ini Banjar District on 2007 not still good with assumption of financial that recommendation by World Bank and result of PHP-II study.
The support health financial of health toward to reach Minimal Service Standart (SPM) in Banjar District still not available, this can be look from 54 SPM indicators, there are 13 indicators (24,2%) the fund is not available and 22 indicators (40,7%) the fund less available or <50% from that needed.
Key Word : minimal service standart (SPM) health sector, health financial
Literature : 13 (1996 up to 2007)
Salah satu faktor yang mempengaruhi belum optimalnya kinerja pembangunan kesehatan adalah bahwa pembangunan kesehatan belum berada dalam arus utama pembangunan nasional dimana anggaran untuk kesehatan masih belum memadai dalam jumlah, belum proporsional dalam distribusi dan belum terarah dalam pemanfaatan. Indikator yang dapat digunakan terhadap keadaan diatas adalah Indek Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada tahun 2003 berada pada urutan 112 dari 190 negara yang sebelumnya pada tahun 2000 berada pada urutan 102. Sedangkan indikator kinerja yang dapat dipergunakan adalah Indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subyek penelitian berjumlah 32 orang yang terdiri dari 14 orang dari Dinas Kesehatan dan 18 orang dari Puskesmas.
Hasil penelitian sebanyak 22 Indikator (40,7%) SPM Bidang Kesehatan belum bisa dicapai sesuai dengan target yang ditetapkan dan pembiayaan kesehatan di Kabupaten Banjar pada tahun 2007 belum sesuai dengan asumsi pembiayaan yang direkomendasikan Word Bank, WHO maupun hasil Study PHP-II.
Dukungan pembiayaan kesehatan terhadap pencapaian Indikator SPM Bidang Kesehatan di Kabupaten Banjar belum memadai, hal ini dapat dilihat dari 54 indikator SPM Bidang Kesehatan sebanyak 13 indikator (24,1%) tidak tersedia dana sama sekali dan 22 indikator (40,7%) dana yang tersedia sedikit atau < 50% dari yang diperlukan.
Filed under: Tak Berkategori
CHICAGO– Dokter spesialis anak dari negara-negara terkemuka mengatakan, mulai bayi yang baru lahir hingga remaja seharusnya mendapatkan dosis dua kali lebih tinggi dibandingkan dosis yang direkomendasikan 200 unit vitamin D karena terbukti dapat mencegah penyakit berbahaya.
Menurut American Academy of Pediatric, untuk memenuhi dosis dari rekomendasi terbaru yaitu 400 unit perhari, jutaan anak-anak perlu memperoleh supelemen vitamin D. Termasuk anak-anak yang masih menyusu, bahkan yang juga sudah ditambah dengan susu formula serta banyak anak remaja yagn sangat kurang mengonsumsi susu atau tidak sama sekali.
Susu formula bayi mengandung vitamin d, jadi bayi yang mengonsumsinya tikan perlu suplemen. Namun, AAP tetap merekomendasikan bayi yang disusui untuk tetap mengonsumsi suplemen vitamin D setidaknya pada tahun pertama untuk menghindari kemungkinan kurangnnya kandungan vitamin D pada air susu ibu (ASI).
Sebagian besar susu sudah difortifikasi dengan vitamin D, namun sebagian besar anak-anak dan remaja tidak meminum dengan cukup yaitu empat gelas per hari berdasarkan rekomendasi terbaru. Hal itu dikatakan Dr Frank Greer sebagai salah seorang peneliti.
Rekomendasi terbaru untuk meningkatkan asupan vitamin D berdasarkan penelitian tentang keuntungan dari vitamin tersebut selain membuat tulang kuat, termasuk mengurangi risiko kanker, diabetes dan penyakit jantung. Namun, penelitian tersebut belum sepenuhnya terbuki dan belum ada konsensus tentang berapa banyak dosis vitamin d yang dibutuhkan untuk mengurangi risiko penyakit tersebut.
Rekomendasi itu akan menggantikan rekomendasi sebelumnya dari AAP yaitu 200 unit vitamin D per hari anak-anak hingga orang dewasa usia 50, usia 51-70 tahun sebanyak 400 unit dan 71 tahun keatas 600 unit. Untuk bayi dan anak-anak, vitamin D juga tersedia dalam bentuk obat tetes, kapsul dan tablet.
Institute of Medicine sebagai kelompok penasihat pemerintah AS yang mengatus standar diet saat ini sedang berdiskusi dengan pihak terkait apakah akan mengganti rekomendasi tersebut berdasarkan penelitian terbaru. Hal itu diungkapkan juru bicara, Christine Stencel.
Rekomendari itu akan segera dirilis pada sebuah konferensi di Boston. Kemudian akan dipublikasikan pada academy journal Pediatric bulan November mendatang.
Selain susu dan makanan lain yang sudah fortifikasi seperti sereal, vitamin D juga bayak ditemukan dalam ikan seperti tuna, makarel dan sarden.
Namun, sangat sulit untuk memperoleh dosis yang cukup dari makanan. Sumber vitamin D tersebaik adalah paparan sinar matahari. Tubuh akan membuat vitamin D saat terpapar sinar matahari.
Diyakini paparan sinar matahari selama 10-15 menit beberapa kali per minggu dapat mencukupi kebutuhan orang termasuk yang berkuit gelap. Namun orang yang berkulit pucat memerlukan lebih banyak.
“Supelemen vitamin D diperlukan sejak bayi, anak-anak hingga dewasa,” ujar laporan dari Academy.
Penelitian baru-baru ini menunjukkan, banyak anak-anak tidak memperoleh vitamin D yang cukup dan kasus penyakit rakhitis yaitu kelainan tulang diaosisasikan dengan kekurangan vitamin sejak tahun 1800-an terus berulang.
Adrian Gombart, Peneliti tentang Vitamin D di Oregon State University mengatakan bahwa rekomendasi terbaru tersebut aman dan konservatif. Namun dosis 400 unit itu juga mungkin belum cukup.
Penelitian Gombart yang meneliti jaringan tubuh manusia menunjukkan, vitamin D membantu meningkatkan protein yang membunuh bakteri. Dia menuturkan, banyak ahli yang mempercayai dosis 800-1.000 unit per hari lebih efektif mencegah penyakit. (AP/ri)
Filed under: Tak Berkategori
Vitamin D mungkin membantu sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi TB dengan cara menggiatkan sebuah protein pembunuh bakteri. Hal ini dilaporkan pada jurnal Science edisi 23 Februari. Menurut Robert Modlin – kepala dermatologi di David Geffen School of Medicine di University of California-Los Angeles – sistem kekebalan tubuh dapat merangsang sel darah putih untuk mengubah vitamin D menjadi bentuk yang dipakai untuk membuat sebuah protein yang melawan bakteri TB.
Para peneliti juga menemukan bahwa orang kulit hitam – yang mempunyai risiko lebih tinggi terhadap infeksi TB dan sering mengembangkan penyakit yang lebih berat – mempunyai tingkat vitamin D yang lebih rendah dalam darahnya. Modlin menambahakan bahwa melanin, pigmen yang membuat kulit lebih gelap, mengurangi pembuatan vitamin D pada orang kulit hitam karena senyawa tersebut menyerap cahaya ultraviolet matahari, dan vitamin D terutama dibuat oleh pajanan pada cahaya matahari.
Para peneliti menemukan bahwa sel yang diambil dari serum darah orang kulit hitam membuat 63 persen lebih sedikit protein pembunuh bakteri dibandingkan sel yang diambil dari orang kulit putih. Menurut Modlin, sel tersebut meningkatkan pembuatan protein tersebut ketika para peneliti menambahkan vitamin D pada pembiakan.
Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk meyakinkan apakah minum suplemen vitamin D dapat memberikan hasil serupa, kata Modlin. Dia juga menambahkan bahwa para peneliti sedang menyelidiki efek vitamin D pada sistem kekebalan tubuh.
Ringkasan: Vitamin D Might Prevent TB Infection, Study Says
Sumber: The Kaiser Daily HIV/AIDS Report
Filed under: Tak Berkategori
Washington (ANTARA News) – Kadar vitamin D dalam tubuh yang rendah memiliki kaitan kuat dengan resiko terkena serangan jantung, gagal jantung dan stroke demikian hasil penelitian yang dipublikasikan Senin (Selasa WIB) yang menyatakan vitamin D dapat melindungi seseorang dari penyakit jantung.
Resiko terkena penyakit yang berhubungan dengan jantung terjadi terutama dengan mereka-mereka yang menderita penyakit tekenan darah tinggi, demikian hasil penelitian tersebut menyatakan.
Vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium dan diyakini sangat penting bagi kesehatan tulang, namun sejumlah penelitian menunjukkan vitamin D juga memiliki faedah lainnya.
Pada orang usia dewasa kekurangan vitamin D dapat menjadi penyebab osteoporosis.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Dr Thomas Wang dari Fakultas Kedokteran di Harvard di Boston yang melibatkan 1.739 orang dengan rata-rata usia 59 tahun yang diikuti perkembangan kesehatannya selama 5 tahundengan mengambil sampel darahmereka untuk menlihat kadar vitamin D.
Mereka yang memiliki tingkat vitamin D dalam darah rendah, 60 persen diantaranya memiliki resiko tinggi terkena serangan jantung, gagal jantung dan stroke dibandingkan dengan mereka-mereka yang memiliki kadar vitamin D yang lebih tinggi bahkan yang diketahui memiliki faktor resiko tinggi terkena serangan jantung yaitu diabetes, kholesterol tinggi dan tekanan darah tinggi.
Resiko terkena serangan jantung, gagal jantung atau stroke dua kali lipat pada mereka-mereka yang memiliki tekanan darah tinggi atau hypertensi dan kekurangan vitamin D, kata para peneliti.
Hasil temuan di publikasikan dalam buletin yang dipublikasikan oleh persatuan Dokter Ahli Jantung Amerika Serikat.
Wang mengatakan hasil temuan tersebut memberikan harapan namun masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa asupan tambahan vitamin D akan menurun resiko terken serangan jantung, gagal jantung dan stroke dan terlalu tergesa-gesa apabila menganjurkan kepada para penderita tersebut diatas untuk menerima asupan tambahan vitamin D untuk tujuan tersebut diatas.
“Kekurangan vitamin D adalah satu kondisi yang biasa terjadi terutama di negara-negara yang tidak menerima sinar matahari yang cukup selama masa musim dingin.”
“Sebenarnya cukup dapat dibenarkan apabila memperbaikai keadaan kekuarangan vitamin D dengan megubah pola makan memberikan tambahan asupan yang berisi vitamin D,” kata Wang.
Tubuh manusia membuat Vitamin D pada saat kulit terkena pajanan sinar matahari . Tak banyak makanan yang banyak mengandung vitamin D. Vitamin D banyak ditemukan pada daging ikan salmon, dan susu umumnya diberi unsur tambahan vitamin D.
Para ahli mengatakan terkan pajanan selama 10 sampai 15 menit tiga kali dalam sepekan sudah cukup untuk memproduksi vitamin D yang dibutuhkan tubuh.
“Ada sejumlah banyak literatur yang menyatakan bahwa vitamin D seringkali melakukan kerja terhadap jantung dan pembuluh darah utama, dan seringkali pula diutemukan bahwa kekurangan vitamin D disangkut pautkan dengan perkembangan tak abnormal dari jantung.”
Hasil penelitian sebelumnya juga menyatakan bahwa menerima asupan tambahan vitamin D dapat melindungi dari terkena sejumlah jenis kanker demikian pula dengan multiple sklerosisi, demikian Reuters.(*)
Filed under: Tak Berkategori
VITAMIN D telah dikenal luas sebagai unsur penting bagi kesehatan tulang. Bila kekurangan vitamin ini, Anda berisiko menderita beragam penyakit mulai dari keropos tulang, kanker usus dan problem kekebalan tubuh.
Selain penyakit tersebut, para ahli juga mengindikasikan bahwa vitamin D berkaitan dengan penyakit rematik. Indikasi tersebut terlihat dengan tingginya kasus defisiensi vitamin D pada pasien yang dirawat di klinik rheumatologi.
Seperti dilaporkan peneliti Irlandia, Jumat (13/6), hampir tiga perempat pasien yang dirawat di klinik rheumatologi, dengan keluhan bervariasi seperti sakit otot, sendi, tulang dan tendon, ternyata mengalami kekurangan asupan vitamin D.
Dr. Muhammad Haroon dan rekannya dari South Infirmary-Victoria University Hospital, Cork, membuat kesimpulan tersebut setelah meneliti kasus defisiensi vitamin D pada pasien baru di klinik mereka antara bulan Januari hingga June 2007. Hasil riset mereka juga dipresentasikan dalam Liga Uni Eropa Melawan Rheumatik 2008 di Paris.
Dari 264 pasien yang didata pada periode ini, 231 pasien di antaranya setuju untuk dijadikan responden serta menjalani beragam metode pengukuran vitamin D. Secara keseluruhan, Dr Haroon menemukan162 pasien (70 persen) yang memiliki kadar vitamin D rendah dan 26 persen di antaranya dalam kondisi yang parah. Perbedaan kecil terlihat dalam hasl persentase pasien muda dan pasien tua yang mengalami defisiensi.
Defisiensi yang parah berpengaruh signifikan pada prosentase pasien yang mengalami beragam keluhan seperti penyakit radang senndi, rheumatik, arthritis, sakit pinggang, dan osteoporosis. Menurut Haroon, defisiensi vitamin D yang parah akan meningkatkan risiko keropos tulang atau osteoporosis dan pelembutan tulang (osteomalacia). Sementara itu, defisiensi yang ringan hingga sedang akan menimbulkan keluhan-keluhan rheumatik yang tidak spesfik.
Filed under: Tak Berkategori
Ada 5 hal yang membuat manusia SOMBONG :
1. Karena harta / kekayaan
2. Karena kedudukan / pangkat
3. Karena Keturunan
4. Karena Kecantikan / ketampanan
5. Karena kepintaran
Filed under: Tak Berkategori
Nakhoda Bangsa
Oleh : Haedar Nashir Pemimpin itu bagaikan nakhoda. Lebih-lebih pemimpin bangsa di kala pancaroba. Dia tak boleh kehilangan arah kemudi, kendati hantaman gelombang datang dari segala jurusan. Memimpin di kancah perubahan memang sarat masalah. Tak perlu melankolis, apalagi gampang panik. Bersikaplah wajar, jangan berlebihan. Apa pun, pemimpin itu perlu tameng kearifan, sekaligus ketangguhan.Tapi tak banyak pemimpin yang tangguh, apalagi arif. Reformasi baru berhasil menghadirkan pemimpin pemenang, tapi bukan nakhoda. Air beriak saja disikapi over dosis seolah gelombang dahsyat. Sementara gelombang tsunami dianggap sepi seolah tak ada masalah. Seperti kulit bawang, gampang mengelupas. Padahal betapa menggunung persoalan di tubuh bangsa ini. Sedikit saja kehilangan keseimbangan, efeknya bisa seperti bola liar.Pemimpin itu memang manusia. Selalu ada salah dan dosa. Tak ada pemimpin yang bebas salah dan masalah. Jika pemimpin itu benar dan sungguh tak bersalah, kenapa mesti gundah? Bukankah ada contoh, yang salah saja berkata apa adanya, lalu publik menghargai makna kejujuran. Kenapa harus tunggang-langgang? Arif sedikit malah menjadi mutiara berharga. Jangankan sebuah tudingan, bahkan fitnah pun manakala memang tak ada, akan sirna dengan sendirinya. Pemimpin itu harus memiliki seribu satu perisai kearifan, juga kewajaran. Kalau gampang gundah-gulana, malah orang jadi penasaran.Tapi biarlah rakyat nan cerdas menilai para pemimpin bangsa yang terlanjur hadir di Republik ini. Pemimpin itu memang tak dapat dipaksakan. Mana pemimpin yang sejati dan mampu menghadapi masalah secara nyata. Mana pemimpin yang gampang panik menghadapi masalah. Mana pula pemimpin yang lebih bermain di alam citra sambil meninggalkan masalah krusial bangsa. Kita tak mungkin menuntut pemimpin di luar kapasitasnya. Kepemimpinan bangsa memang memiliki dinamikanya sendiri, ada yang mau bertindak benar dan jujur, lainnya mengikuti irama alam. Setiap babakan sejarah selalu melahirkan pemimpin yang penuh warna-warni.Namun satu hal yang tak boleh lupa dan terabaikan oleh siapa pun di negeri tercinta ini. Bahwa bangsa ini membutuhkan pemimpin nakhoda yang harus sanggup menyelesaikan masalah-masalah krusial yang berat. Pemimpin nasional yang dengan langkah nyata mampu mengeluarkan Indonesia keluar dari kemelut. Di situlah tanggung jawab dan kewajiban pemimpin yang memperoleh mandat atau amanat rakyat. Mau arif atau tidak, itu hal yang tak bisa dipaksakan. Sikap praktis kita ialah, menghisab kepemimpinan nasional untuk menyelesaikan persoalan-persoalan krusial bangsa. Bukan kepemimpinan retorika dan pesona.Kita harus jujur kepada rakyat. Sejumlah masalah besar yang sangat krusial masih melilit bangsa ini. Sebutlah jumlah orang miskin dan menganggur yang terus meningkat, bukan malah kian susut. Martabat bangsa pun jatuh di mata bangsa-bangsa lain, bahkan untuk berpolitik bebas aktif pun Indonesia menjadi terengah-engah karena ketergantungan yang tinggi pada negara adidaya. Bencana demi bencana bermunculan, yang meruntuhkan tatanan sosial dan lingkungan. Persoalan-persoalan lainnya yang krusial saling berhimpitan dan menjadi muara masalah nasional yang kompleks.Sementara itu pemberantasan korupsi yang digembar-gemborkan, menurut banyak penilaian masih kasus-kasus pinggiran dan cenderung tebang pilih. Bahkan dengan kasus dana nonbujeter DKP pun terasa ada yang kebakaran jenggot, kendati tekad pemerintah katanya mau menuntaskan masalah krusial yang satu ini. Padahal tokoh nasional sekaliber M Amien Rais telah membuka jalan dengan sikap jujur dan berani, yang penuh risiko. Jika bertekad memberantas korupsi kenapa risau dengan hal-hal atributif, lebih baik dahulukan yang substantif.Sungguh bangsa ini tak beranjak dari persoalannya yang serba krusial. Dari krisis multidimensi. Bangsa-bangsa jiran sudah melangkah jauh, padahal dulu sama-sama mengalami krisis. Rupanya kuncinya terletak pada pemimpin dan kepemimpinan yang tepat. Pemimpin dan kepemimpinan yang benar-benar menjadi nakhoda yang sesungguhnya, yang mampu mengarahkan pelayaran sekaligus tangguh menghadapi gelombang yang menghantam. Kata Buya Safii Maarif, bangsa ini memerlukan pemimpin di kancah krisis, bukan pemimpin biasa-biasa saja. Boleh jadi pemimpin solidarity maker sekaligus problem solver. Bukan kepemimpinan yang setengah-setengah, apalagi sekadar mengandalkan citra atau pesona. Tak perlu cari dari langit, yang ada pun sebenarnya bisa dimanfaatkan laksana pepatah tak ada rotan kayu pun jadi. Apa boleh buat demokrasi tidak selalu melahirkan pemimpin yang tepat untuk waktu dan keadaan yang tepat. Namun manakala mau belajar dan memiliki kesungguhan yang total, maka tak ada yang musykil apalagi mustahil untuk dipecahkan.Jadi, jangan-jangan masalah bangsa ini titik krusialnya berada di level pemimpin dan kepemimpinan nasional yang kehilangan fungsinya sebagai nakhoda. Nakhoda yang sungguh-sungguh mau bertanggung jawab untuk mengutamakan penyelesaian masalah-masalah krusial bangsa. Pemimpin yang lebih mendahulukan persoalan bangsa ketimbang urusan citra diri dan hal-hal yang tidak prioritas. Nakhoda yang sensitif terhadap masa depan bangsa, bila perlu tanpa memikirkan sedikit pun masa depan dirinya. Nakhoda yang sungguh-sungguh peduli pada nasib dan martabat bangsa melebihi kecintaan pada dirinya.Cobalah saksikan persoalan yang melilit bangsa ini, masih banyak yang krusial. Termasuk krusial di bidang moral dan martabat bangsa. Bukalah kembali kasus RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang terkatung-katung hingga saat ini. Nakhoda bangsa kita begitu sangat sensitif manakala menyangkut nama dan persoalan dirinya, namun ketika dihadapkan pada agenda-agenda besar nasional seolah bukan prioritas utama. Tak tersentuh rasa kepemimpinannya, sense of belonging-nya dalam memecahkan masalah krusial bangsa. Kapan ingin menuntaskan RUU yang penting itu. Jika DPR lambat dan mandek, pemerintah bisa berteriak keras, bukan diam. Bukankah untuk satu dua hal begitu sensitif. Masalah moral seolah diletakkan sebagai agenda pinggiran.Coba pulalah buka kembali kasus majalah Playboy. Tokoh-tokoh bangsa dan seluruh komponen umat Islam sangat berkeberatan dan bahkan memprotes keras, seraya menuntut agar pemerintah tidak mengizinkan majalah porno tersebut. Namanya saja tidak cocok dengan budaya bangsa ini. Tapi apa yang terjadi, pucuk pimpinan nasional nyaris tidak peduli dengan urusan Playboy ini, seolah bukan masalah bangsa. Padahal sering muncul retorika tentang pentingnya moral dan agama di muka publik.Namun Playboy terus terbit, bahkan pengadilan membebaskan pimpinan redaksinya. Dengan bersembunyi di balik kebebasan pers, pemerintah bukan hanya tak berdaya, bahkan secara nyata tak peduli dan tak berpihak pada persoalan moral dan martabat bangsa. Suara jernih umat dan komponen bangsa yang peduli moral berlalu begitu saja, laksana pepatah anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.Fakta apa yang bisa kita ambil dari semua ini? Bangsa ini kembali gagal melahirkan kepemimpinan yang efektif dan bermoral tinggi untuk memecahkan masalah-masalah krusial yang terlanjur hadir secara kompleks. Demokrasi hanya melahirkan kepemimpinan pemenang, bukan penyelesai masalah. Kepemimpinan yang begitu rupa memiliki legitimasi politik yang sangat kuat, tetapi kehilangan momentum untuk menyelesaikan masalah besar bangsa secara sistematik. Padahal jika masalah-masalah krusial bangsa ini tak terpecahkan secara tersistem, terbuka kemungkinan rakyat dan elemen-elemen nasional hilang kesabaran dan kemudian lahir tuntutan reformasi jilid kedua.Bangsa ini lagi-lagi kehilangan peluang untuk menghadirkan kepemimpinan nakhoda di kancah gelombang perubahan. Kepemimpinan yang benar-benar teruji menjadi nakhoda yang tangguh, visioner, arif, dan mampu memecahkan masalah-masalah krusial bangsa secara nyata dan tersistem. Kepemimpinan yang mampu memilah mana yang utama dan mana yang pinggiran. Dalam logika kearifan klasik Islam, pemimpin yang mampu memisahkan mana yang terpenting dari yang penting, taqdim al-aham min al-muhim. Bukan malah terbalik-balik, yang tidak begitu penting dijadikan sesuatu yang seolah sangat penting, sehingga urusan yang semestinya disikapi normal pun akhirnya menjadi heboh dan tumpah-ruah ke segala arah. Memang tak mudah untuk menjadi pemimpin nakhoda di negeri yang masih dilanda krisis pancaroba ini. Sang nakhoda mesti benar-benar tahu dan paham arah pelayaran bangsa. Nakhoda juga harus benar-benar sigap mengerahkan segenap awak kapal laksana komandan, bukan sekadar kepala pelayaran. Sang nakhoda bahkan harus paling siap dan bertanggung jawab dalam menghadapi hantaman gelombang dengan sikap gagah perwira, tanpa harus menjadi melankolis. Bukankah pemimpin dilahirkan untuk menghadapi gelombang tantangan, ancaman, dan hantaman? Kita tak ingin pemimpin lahir karena kesan terzalimi dan politisasi penzaliman publik, bukan karena kapasitas dan kehadiran untuk menyelesaikan masalah bangsa.Di negeri mana pun tak ada pemimpin yang segala urusan yang dihadapinya menjadi mudah. Apalagi tanpa masalah. Selalu hadir masalah yang silih berganti bak hantaman gelombang di tengah lautan. Pemimpin itu memang dihadirkan untuk menghadapi dan memecahkan sejuta masalah, yang tak mungkin dipikul oleh rakyat kebanyakan. Pemimpin itu juga dituntut untuk membawa bangsa dan negara ke arah yang benar agar tak jatuh ke jurang yang sama sebagaimana pengalaman sejarah yang baru berlalu. Bangsa ini memang membutuhkan pemimpin nakhoda, bukan awak kapal biasa.
Filed under: Tak Berkategori
Al Mitra: “……Tujuan Utama pendidikan adalah bagaimana mentransfer nilai kebenaran dan kejujuran ilmiah yang berimplikasi kepada nilai
KEBENARAN DAN KEJUJURAN dalam setiap sektor kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kegagalan dalam misi ini akan berdampak serius bagi KEHANCURAN BANGSA oleh penyakit kronis…..KKN” 1. Jika Anda telah belajar, kemudian memperoleh hasil memuaskan…, SELAMAT Anda membuat Qualitas terbaik bagi diri Anda.2. Jika Anda telah belajar OPTIMAL, namun hasil kurang memuaskan…, SELAMAT setidaknya Anda menjadi pejuang yang baik dan jujur.3. Jika Anda belajar KURANG OPTIMAL, namun masih mau jujur…, SELAMAT setidaknya Anda memiliki kepribadian yang baik.4. Jika Anda belajar KURANG OPTIMAL, namun MIMPI UNTUK NILAI TERBAIK, dengan melakukan kecurangan…, Anda ternyata kurang paham tentang tujuan pendidikan yang sedang anda tempuh.